selamat datang

.........silahkan menikmati isi yang terdapat di Blog saya ini. Jangan lupa memberikan komentar/masukan agar dapat meningkatkan kualitas isi di Blog ini.Terima Kasih.

Selasa, 13 Desember 2011

PENGARUH SUHU PERMUKAAN LAUT TERHADAP JUMLAH DAN UKURAN HASIL TANGKAPAN IKAN CAKALANG DI PERAIRAN TELUK PALABUHANRATU JAWA BARAT


abstrak
Mario Limbong. Pengaruh Suhu Permukaan Laut Terhadap Jumlah dan Ukuran Hasil Tangkapan Ikan Cakalang di Perairan Teluk Palabuhanratu Jawa Barat. Dibimbing oleh Domu Simbolon
           Penentuan daerah penangkapan ikan dapat diduga dari kondisi perairan yang merupakan habitat dari suatu spesies. Kondisi perairan biasanya digambarkan dengan parameter oseanografi. Salah satu indikator untuk mengetahui keberadaan suatu spesies ikan yaitu suhu permukaan laut. Keberadaan ikan cakalang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor oseanografi, salah satunya yaitu suhu permukaan laut.
         Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu, tahap pertama di perairan Teluk Palabuhanratu dengan basis operasi di PPN Palabuhanratu (Agustus-Oktober 2007). Penelitian ini menggunakan metode survei, sedangkan pengambilan data melalui eksperimental fishing dengan cara purposive sampling, sebanyak 10 kapal payang. Suhu permukaan laut diperoleh dengan men-download dari internet (http://oceancolor.gsfc.nasa.gov).
         Suhu permukaan laut di perairan Teluk Palabuhanratu pada bulan Agustus, SPL berkisar 22oC – 29oC dengan SPL dominan antara 26oC-29oC. Kisaran SPL pada bulan September yaitu antara 21oC – 27oC dengan SPL dominan antara 24oC – 27oC. Kisaran SPL pada bulan Oktober adalah 20oC-31oC dengan suhu dominan pada kisaran 24oC-29oC. Ikan cakalang banyak tertangkap pada kisaran suhu 25oC-29oC. Daerah penangkapan ikan cakalang pada bulan Agustus sampai Oktober 2007 terdapat di perairan Teluk Ciletuh, Ujung Karangbentang, Cimaja, Teluk Cikepuh, Ujung Genteng dan Gedogan. Suhu permukaan laut (SPL) tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan cakalang di perairan Teluk Palabuhanratu.

Kata kunci: Suhu Permukaan Laut, Cakalang dan Palabuhanratu
=========================================================================
RIWAYAT HIDUP

             Penulis dilahirkan di Singkam pada tanggal 6 Maret 1986 dari pasangan J. Limbong dan E. Sitanggang. Penulis adalah anak ke tiga dari enam bersaudara. Tahun 1992 mengawali pendidikan di SD N 173783 Singkam dan pada tahun 1998 penulis melanjutkan ke Sekolah  Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Sianjur Mula-Mula. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Umum Kartika I-2 Medan.
             Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004 melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada Program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Penulis pernah menjabat sebagai anggota Departemen Informasi dan Komunikasi HIMAFARIN 2005-2006, Ketua Persekutuan Fakultas FPIK, Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa PMK tahun 2004 sampai sekarang.
             Pada tahun 2007 penulis melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Suhu Permukaan Laut Terhadap Jumlah dan Ukuran Hasil Tangkapan Ikan Cakalang di Perairan Teluk Palabuhanratu, Jawa Barat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana perikanan pada Program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan.
==========================================================================
       PENDAHULUAN

   Latar Belakang
Perikanan merupakan salah satu sektor ekonomi potensial yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia yang semakin sulit. Peningkatan pertumbuhan manusia tidak sebanding dengan peningkatan sumber daya alam yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal ini mendorong sektor perikanan untuk meningkatkan hasil tangkapannya. Indonesia merupakan negara perairan yang masih memiliki kendala dalam bidang penangkapan ikan. Salah satu kendala yang dihadapi oleh nelayan-nelayan Indonesia adalah keterbatasan pengetahuan dalam penentuan posisi penangkapan yang efisien atau daerah penangkapan ikan yang potensial.
Perairan Palabuhanratu yang terletak di selatan Jawa Barat, merupakan salah satu daerah perikanan yang potensial di Indonesia. Nelayan di Palabuhanratu melakukan penangkapan ikan hanya berdasarkan pengalaman untuk menentukan daerah penangkapan sehingga mereka memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama. Jenis-jenis ikan yang terdapat di Palabuhanratu sangat banyak sehingga daerah ini merupakan tempat yang strategis bagi nelayan lokal maupun nelayan yang datang dari luar Palabuhanratu. Cakalang merupakan salah satu jenis ikan yang paling banyak tertangkap oleh alat tangkap payang dan gillnet di Palabuhanratu. Musim penangkapan cakalang berlangsung antara Juni sampai Oktober dan puncaknya terjadi pada Agustus sampai September. Informasi tentang keberadaan cakalang tersebut masih sulit diperoleh secara pasti di Palabuhanratu.
Daerah penangkapan cakalang di perairan Teluk Palabuhanratu seyogianya dapat diketahui dengan memperhatikan parameter oseanografi, seperti suhu permukaan laut. Hal ini disebabkan karena setiap spesies ikan memiliki kisaran suhu tertentu yang sesuai dengan kebiasaan hidupnya yang dapat ditoleransi oleh tubuhnya sehingga dapat mempengaruhi penyebaran ikan di suatu perairan. Dengan cara membandingkan keberadaan ikan yang tertangkap dengan suhu permukaan laut yang disukainya, keberadaan ikan cakalang dan jenis ikan lain dapat diketahui.
            Pengamatan suhu permukaan laut untuk mendeteksi keberadaan ikan cakalang sangat tepat karena cakalang merupakan spesies yang lapisan renangnya terdapat pada lapisan atas dekat permukaan. Laevastu dan Hayes (1981) mengemukakan bahwa suhu berpengaruh terhadap penyebaran ikan cakalang. Suhu optimum untuk ikan cakalang di Pasifik Timur Laut sebesar 20 – 26oC, sedangkan di Pasifik Tenggara berada pada kisaran 20-28oC. Untuk Indonesia menurut Gunarso (1985) cakalang dapat ditemukan pada kisaran suhu antara 28-29oC.
            Gunarso (1985) mengatakan bahwa kebiasaan cakalang bergerombol sewaktu dalam keadaan aktif mencari makan. Jumlah cakalang dalam suatu gerombolan berkisar beberapa ekor sampai ribuan ekor. Individu suatu schooling cakalang mempunyai ukuran yang relatif sama. Ikan yang berukuran lebih besar berada pada lapisan yang lebih dalam dengan schooling yang kecil, sedangkan ikan yang berukuran kecil berada pada lapisan permukaan dengan kepadatan yang besar (Waldrom diacu dalam Irawan, 1995). Apakah faktor oseanografi berpengaruh terhadap penyebaran ukuran ikan cakalang? Ikan cakalang ukuran besar berbeda kemampuan adaptasinya dengan ikan cakalang ukuran kecil dalam mengatasi perubahan lingkungan. Dengan mengetahui ukuran ikan cakalang, maka dapat melihat sebagian sifat-sifatnya dalam mengatasi perubahan lingkungan.
            Untuk mengetahui parameter oseanografi suhu permukaan laut (SPL) perairan Indonesia yang sangat luas maka metode konvensional sangat sulit dilakukan karena membutuhkan biaya yang sangat besar dan waktu yang lama. Hal ini mendorong untuk memanfaatkan teknologi satelit dalam pengamatan fenomena oseanografi khususnya suhu permukaan laut. Satelit ini mampu menentukan nilai SPL optimum yang disukai ikan, termasuk ikan cakalang. Dengan mengetahui penyebaran SPL optimum ikan cakalang, maka nelayan dapat memprediksi daerah penangkapan sehingga menghemat waktu, biaya dan tenaga untuk melakukan operasi penangkapan. Oleh karena itu penelitian tentang pengaruh SPL terhadap jumlah dan ukuran hasil tangkapan ikan cakalang di peraiaran Teluk Palabuhanratu ini perlu dilakukan.


   Tujuan
1)      Menentukan penyebaran SPL di perairan Palabuhanratu
2)      Menentukan komposisi (jumlah dan ukuran) hasil tangkapan cakalang
3)      Memprediksi pengaruh SPL terhadap jumlah dan ukuran panjang (size) hasil tangkapan cakalang

   Manfaat
1) Nelayan dapat melakukan penangkapan ikan cakalang secara produktif dengan mengetahui penyebaran daerah penangkapan ikan yang potensial
2)   Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, khususnya penerapan berbagai penginderaan jauh dalam pendeteksian daerah penangkapan ikan
=========================================================================
 
 METODOLOGI

  Waktu dan Tempat Penelitian
            Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah tahap pengumpulan data di perairan Teluk Palabuhanratu dengan pendaratan di PPN Palabuhanratu, Kecamatan Sukabumi (Gambar 3) yang dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2007. Tahap kedua dilaksanakan pada bulan Desember sampai Januari 2007 dengan men-download citra suhu permukaan laut dari internet (http://oceancolor.gsfc.nasa.gov).
 
Gambar   Peta daerah penelitian.  


























  Jenis dan Sumber Data
            Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh melalui penangkapan ikan yaitu posisi dan waktu penangkapan, jumlah hasil tangkapan cakalang, ukuran panjang cakalang. Sedangkan data sekunder yang digunakan adalah citra SPL, jumlah alat tangkap, jumlah kapal dan jumlah nelayan di Palabuhanratu.
Tabel     Sumber sumber data primer dan sekunder
No
Jenis Data
Sumber
I
    1
   
    2
    3

II
    1
    2
   
    3
    4
Data Primer
Posisi dan waktu penangkapan cakalang
Jumlah hasil tangkapan cakalang
Ukuran panjang cakalang

Data Sekunder
Citra SPL
Jumlah alat tangkap di Palabuhanratu
Jumlah kapal di Palabuhanratu
Jumlah nelayan di Palabuhanratu

Nelayan kapal sampel

Nelayan kapal sampel
Nelayan kapal sampel


Kantor PPN Palabuhanratu 2006

Kantor PPN Palabuhanratu 2006
Kantor PPN Palabuhanratu 2006

  Metode Pengumpulan Data
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode survei merupakan penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan yang aktual (Nazir, 1998).  Untuk penentuan sampel kapal pada kegiatan penangkapan ikan dilakukan secara sengaja atau purposive sampling yaitu kapal payang sebanyak 10 unit dengan pertimbangan sebagai berikut : sampel kapal beroperasi di Perairan Teluk Palabuhanratu, sampel kapal layak beroperasi, sampel kapal terpilih dapat mewakili seluruh jenis unit penangkapan dengan tujuan utama penangkapannya adalah ikan cakalang. Pada setiap kapal sampel dicatat waktu operasi penangkapan ikan, posisi penangkapan, jumlah dan ukuran panjang cakalang.
            Jumlah hasil tangkapan dari kapal sampel yang telah ditentukan dicatat pada kuisioner dalam bentuk fishing log yang telah disediakan pada setiap posisi setting. Fishing log dibagikan kepada enumerator yang ada pada kapal sampel pada saat mereka melaut. Di samping jumlah hasil tangkapan pada setiap setting, enumerator juga mencatat (menandai) posisi lintang dan bujur penangkapan (setting) pada peta daerah penangkapan ikan yang telah dibagikan karena kapal-kapal sampel tidak dilengkapai dengan GPS. Peta daerah penangkapan ikan dibagi menjadi beberapa pixel dengan luasan 4.63 km x 4.63 km. Ukuran panjang cakalang dicatat dalam fishing log pada setiap setting. Ikan cakalang diambil secara acak yang lebih dekat dengan nelayan tanpa memperhatikan kriteria lain dan diukur panjang total.
Data kegiatan penangkapan ini juga diperoleh melalui wawancara terhadap sejumlah responden di samping melalui eksperimental fishing. Responden ditetapkan secara purposive sampling, yaitu terhadap ABK, nahkoda atau pemilik kapal sampel. Jumlah ABK sebanyak 5 orang dan nahkoda sebanyak 5 orang.  
Data suhu permukaan laut diperoleh dengan cara men-download citra SPL yang bebas awan dari internet (http://oceancolor.gsfc.nasa.gov). Citra SPL ini dipilih sesuai dengan waktu dan posisi operasi penangkapan ikan. Jenis citra SPL yang digunakan adalah citra Aqua MODIS level 2 karena citra ini khusus untuk keperluan kelautan dan perikanan. Dengan memilih level 2 pada citra Aqua MODIS, maka tampilan warna perairan di Teluk Palabuhanratu dapat dilihat dengan baik sehingga pengamatan perbedaan suhu permukaaan luat dapat dilihat dengan jelas.
            Data tambahan diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi, tempat pelelangan ikan dan instansi-instansi terkait lainnya yang erat kaitannya dengan penelitian ini. Data ini meliputi kondisi umum lokasi penelitian, data produksi bulanan dan tahunan, spesifikasi dan perkembangan unit penangkapan ikan cakalang (nelayan, kapal dan alat tangkap), informasi lainnya yang erat kaitannya dengan topik penelitian.  

  Analisis Data
    Hasil tangkapan
            Data hasil tangkapan yang meliputi komposisi berat hasil tangkapan dan ukuran spesies hasil tangkapan dianalisis menurut skala ruang (posisi lintang dan bujur daerah penangkapan) dan skala waktu (periode waktu operasi penangkapan). Jumlah tangkapan cakalang yang dikelompokkan dalam periode harian dan bulanan dikonversi dalam bentuk CPUE (kg/unit), kemudian disajikan dalam bentuk grafik. Selanjutnya penyebaran jumlah hasil tangkapan tersebut dikelompokkan menjadi tiga, yaitu banyak, sedang dan sedikit. Pengelompokan ini didasarkan pada hasil tangkapan bulanan pada tahun 2005 - 2006 dengan alat tangkap payang. Hasil tangkapan bulanan tahun 2005 - 2006 dibagi menjadi 3 kelas melalui penentuan rata-ratanya dan selanjutnya dijadikan kategori untuk pembagian jumlah hasil tangkapan.
            Frekuensi ukuran panjang cakalang yang tertangkap menurut periode waktu (bulanan dan harian) disajikan dalam bentuk grafik. Selanjutnya penyebaran ukuran panjang tersebut dikelompokkan menjadi dua, yaitu ukuran besar dan ukuran kecil. Ukuran ikan dikelompokkan berdasarkan ukuran ikan yang sudah dewasa yaitu mulai ukuran 40 cm (Matsumoto, 1984).

    Suhu permukaan laut
Data suhu permukaan laut diketahui dengan melakukan analisis digital terhadap citra satelit Aqua MODIS level 2 yang diperoleh dengan men-download citra suhu permukaan laut dari internet (http://oceancolor.gsfc.nasa.gov) yang mempunyai akstensi file *.bz2 kemudian ditampilkan dalam bentuk JPG.  Konsentrasi suhu permukaan laut pada daerah penangkapan ikan pada saat trip operasi penangkapan dapat dihitung dengan menggunakan software SeaDAS 4.7 yang dioperasikan dengan program linux. Langkah-langkah pemrosesan citra dan SPL adalah sebagai berikut :
1.       Import data
Langkah pertama adalah mengimpor data satelit yang sudah diekstrak. MODIS ditampilkan dalam bentuk produk sst karena yang diolah adalah SPL.
2.       Pemotongan citra (cropping).
Perekaman oleh sensor satelit mencakup daerah rekaman yang sesuai dengan sapuan sensor, oleh karena itu perlu dilakukan pembatasan wilayah pada citra agar citra hanya memuat daerah penelitian perairan Teluk Palabuhanratu.  Daerah tersebut mempunyai batas geografis pada 06o97LS’ –  07o03’ LS dan 106o59’BT  – 106o62’ BT.
3.       Klasifikasi
Klasifikasi dilakukan untuk membedakan antara darat, awan dan laut. Laut yang dimaksudkan disini yaitu nilai suhu permukaan laut. Pemberian warna (color lut) berfungsi untuk memudahkan dalam pengamatan secara visual. . Pada perairan terdapat color bar yang memiliki selang 4 oC dan setiap 1 oC memiliki warna yang berbeda sehingga dapat terlihat jelas perbedaan konsentrasi suhu permukaan laut pada setiap daerah penangkapan ikan. Suhu terendah pada color bar adalah -2 oC dan tertinggi yaitu 35 oC.
4.   Menghitung Suhu Permukaan Laut
      Perhitungan SPL dapat dilakukan dengan  memakai fungsi cursor position pada titik daerah penangkapan ikan. Cursor position menampilkan nilai SPL, waktu pemotretan dan posisi.
5.   Pembentukan peta daerah penangkapan ikan
      Pembuatan daerah penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan program Photoshop CS2 dalam bentuk JPG.                     
6.   Pembuatan layout
      Pembuatan layout dilakukan di Arcview dengan menambahkan legenda, skala dan arah utara.
            Citra suhu permukaan laut yang telah dibuat dalam peta sebaran suhu permukaan laut dianalisa secara visual dan diinterpretasikan dengan melihat pola distribusi suhu permukaan laut. Data suhu permukaan laut ini dapat dijadikan indikasi tentang keberadaan ikan cakalang. Penyebaran SPL disajikan dalam bentuk citra, selanjutnya dianalisis dengan program SeaDAS untuk memperoleh kisaran SPL, SPL dominan, SPL rata-rata di setiap posisi setting yang selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel.

   Hubungan hasil tangkapan dengan SPL
            Hubungan antara hasil tangkapan dengan suhu permukaan laut pada posisi dan waktu yang bersamaan dianalisis dengan cara menyajikan diagram pencar. Kedua variabel tersebut juga disajikan dalam bentuk persamaan matematis, yaitu persamaan regresi sederhana (Wallpole, 1995) sebagai berikut:

Y  =  a  +  bx
Keterangan:     Y         : Berat hasil tangkapan ikan cakalang (kg)
                        x          : Suhu permukaan laut ( oC )
                        a          : Intersep
                        b          : Koefisien regresi untuk suhu permukaan laut
Untuk menentukan derajat hubungan antara variabel hasil tangkapan dan variabel SPL maka dilakukan analisis korelasi. Semakin tinggi  nilai korelasi maka hubungan antara kedua koefisien semakin erat. Analisis korelasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak microsoft excel dan SPSS ver. 13.0. Derajat hubungan dinyatakan dengan koefisien korelasi (r) yang merupakan akar dari koefisien determinasi (R2).


Dimana kisaran nilai koefisien korelasi adalah :  -1 ≤ r ≤ +1
Korelasi erat jika : r ≥ 0.7 dan r ≤ - 0.6 , dan korelasi tidak erat jika : -0.6 < r < 0.7

3.4.4    Daerah penangkapan ikan potensial
             Penentuan Daerah Penangkapan Ikan (DPI) potensial didasarkan pada tiga indikator, yaitu jumlah hasil tangkapan, ukuran panjang, serta profil suhu permukaan laut pada daerah penangkapan. Pada ketiga indikator tersebut diberi nilai bobot dengan teknik skooring dengan ketentuan sebagai berikut :
1.  Jika pada suatu DPI diperoleh nilai CPUE yang masuk dalam kategori tinggi      ( >300 kg/unit ) diberi bobot 5, CPUE sedang ( 100-300 kg/unit ) diberi bobot 3 dan CPUE rendah ( <100 kg/unit ) diberi bobot 1. Pengelompokan nilai CPUE ini didasarkan pada penyebaran CPUE cakalang selama 2 tahun (2005-2006), sebagaimana disajikan pada Lampiran 1.
2.  Jika cakalang yang tertangkap pada suatu DPI masuk dalam kategori ukuran                                         besar (>40 cm/ekor) diberi bobot 3, sedangkan ukuran kecil (<40 cm/ekor) diberi bobot 1. Pengelompokan ikan ukuran besar/kecil ini mengacu pada pendapat Matsumoto (1984).
3.   Jika SPL didominasi oleh SPL optimum untuk penangkapan, maka DPI tersebut dapat dikategorikan sebagai DPI yang baik dan diberi bobot 3 dan jika tidak didominasi oleh SPL optimum diberi bobot 1.
Setelah diperoleh nilai bobot untuk masing-masing indikator pada suatu DPI tertentu, selanjutnya bobot tersebut dijumlahkan. Dalam hal ini, ketiga indikator diasumsikan mempunyai pengaruh yang sama terhadap penilaian suatu DPI.
             Langkah terakhir dalam penentuan DPI ini adalah dengan cara mengelompokkan nilai bobot gabungan yang merupakan penjumlahan ketiga indikator menjadi tiga, yaitu :
1.       Jika nilai bobot gabungan berada pada kisaran tertinggi, maka DPI tersebut dikategorikan sebagai DPI potensial.
2.       Jika nilai bobot gabungan berada pada kisaran menengah, maka DPI tersebut dikategorikan sebagai DPI sedang.
3.       Jika nilai bobot gabungan berada pada kisaran terendah, maka DPI tersebut dikategorikan sebagai DPI kurang potensial.
==========================================================================
       PEMBAHASAN
                                                                               

      Variabilitas Hasil Tangkapan Ikan Cakalang
            Jumlah hasil tangkapan tertinggi terdapat pada bulan September, kemudian menyusul bulan Oktober dan paling rendah pada bulan Agustus (Gambar 4). Namun demikian, hasil tangkapan ikan cakalang bulan Agustus ini masih termasuk kategori banyak jika dibandingkan dengan hasil tangkapan bulanan pada tahun 2005-2006 di perairan Teluk Palabuhanratu (Lampiran 1) . Tangkapan cakalang yang paling banyak pada bulan September ternyata sesuai dengan pendapat Tampubolon (1990) yang menyatakan bahwa bulan Juni sampai September merupakan musim puncak di daerah perairan Teluk Palabuhanratu.  
            Hasil tangkapan harian pada bulan Oktober dan September hampir sama. Namun secara kumulatif hasil tangkapan ikan cakalang pada bulan September lebih tinggi dibandingkan dengan bulan Oktober. Hal ini disebabkan karena pengambilan data pada bulan Oktober dilakukan hanya sampai pertengahan bulan karena nelayan sampel tidak melakukan operasi penangkapan ikan. Harga ikan cakalang pada bulan Oktober sangat murah dan juga karena hari libur Idul Fitri menyebabkan nelayan tidak pergi menangkap ikan. Harga cakalang yang sangat murah dikarenakan jumlah hasil tangkapan yang banyak. Hasil tangkapan yang didaratkan di PPN Palabuhanratu cukup banyak dan tidak mendapat penanganan yang baik dari pihak pelabuhan. Disamping itu, ruang penyimpanan (cool room) yang tidak tersedia membuat mutu ikan tidak baik sehingga mengurangi minat konsumen untuk membeli.
            Hasil tangkapan yang rendah pada bulan Agustus disebabkan banyak nelayan payang yang tidak menangkap ikan. Selama bulan Agustus sampai awal bulan September, angin berhembus kencang dari arah tenggara sehingga nelayan sulit mendeteksi keberadaan ikan pada saat operasi penangkapan ikan sehingga  nelayan memilih tidak melaut dan mencari pekerjaan lain seperti buruh bangunan. Angin yang kencang mengakibatkan badai, gelombang tinggi serta arus permukaan yang cukup kuat. Akibatnya nelayan mengalami kesulitan untuk mengoperasikan payang dan mendeteksi keberadaan schooling ikan cakalang. Disamping itu, ada kemungkinan ikan cakalang akan bermigrasi menghindari perairan yang bergelombang dan mencari perairan yang lebih tenang untuk menghindari tekanan (Laevastu and Hayes, 1981).
            Jika dilihat pada Gambar 7, proporsi ikan ukuran besar yang didapat pada trip penangkapan nelayan payang periode bulan Agustus sampai Oktober 2007 untuk ikan cakalang hanya sebesar 29% (17,941 kg) dari total tangkapan 61,863 kg. Hasil tangkapan pada bulan Agustus yang ukuran besar hanya sebesar 21%, pada bulan September 37% dan pada bulan Oktober hanya sebesar 11% (Gambar 8). Hal tersebut mengindikasikan walaupun hasil tangkapan cukup banyak, namun berdasarkan aspek lingkungan tidak optimum atau kurang berwawasan lingkungan. 
            Nelayan payang di daerah Palabuhanratu tidak memperhatikan kriteria ukuran besar atau kecil. Semua jenis ikan yang tertangkap dengan jaring payang dimasukkan ke dalam palkah (blong) tanpa memperhatikan ukurannya. Disamping itu, nelayan payang memiliki ukuran mata jaring yang sangat kecil, sehingga ikan cakalang yang berukuran kecil pasti tertangkap. Dalam hal ini dibutuhkan peran serta Pemerintah Daerah dan ahli perikanan tangkap untuk membuat suatu regulasi atau kebijakan tentang pengaturan ukuran hasil tangkapan yang layak.

      Sebaran Temporal dan Spasial SPL di Perairan Teluk Palabuhanratu
            Secara umum, SPL di perairan Teluk Palabuhanratu pada bulan Agustus termasuk hangat namun pada wilayah-wilayah tertentu didominasi oleh SPL dingin. Selanjutnya, SPL pada bulan September 2007 menurun dengan didominasi oleh suhu dingin. Sedangkan pada bulan Oktober 2007, sebagian besar daerah perairan Teluk Palabuhanratu cenderung hangat kembali walaupun masih ditemukan wilayah-wilayah tertentu yang suhunya dingin.
            Suhu permukaan laut pada bulan Agustus 2007 termasuk hangat disebabkan oleh musim timur. Pada bulan September dan Oktober 2007 ditemukan fluktuasi suhu yang drastis seperti dari tanggal 22 September ke tanggal 23 September dan tanggal 8 Oktober ke tanggal 9 Oktober 2007. Hal ini terkait erat dengan munculnya musim peralihan pada bulan September dan Oktober.
            Timbulnya suhu dingin pada bulan September 2007 kemungkinan terkait dengan terjadinya upwelling. Menurut Purba et al. (1994) bahwa upwelling yang intensif terjadi di perairan Teluk Palabuhanratu pada bulan September dan upwelling kurang intensif pada bulan Juli dan Agustus. Wyrtki (1962) manyatakan bahwa proses air naik pada perairan tropis ada hubungannya dengan angin musim yang terjadi di daerah tersebut (angin musim timur). Proses air naik di daerah pantai didasari oleh teori Ekman yang menyatakan jika tertiup angin tetap di atas permukaan laut, maka masa air pada lapisan Ekman akan dibelokkan 90o ke arah kanan untuk belahan bumi utara dan ke arah kiri untuk belahan bumi selatan dari arah angin. Bila angin bertiup sejajar dengan pantai dan pantai berada di sebelah kanan arah angin (belahan bumi selatan), maka lapisan Ekman akan mengalir meninggalkan pantai. Berdasarkan hukum kontinuitas, air di lapisan bawah akan naik ke permukaan. Dengan mekanisme tersebut di selatan Jawa akan terjadi proses air naik (upwelling) pada waktu musim timur, karena pada musim timur di daerah ini bertiup angin pasat tenggara dengan arah yang sejajar pantai selatan Jawa.
            SPL pada bulan September 2007 di daerah perairan Teluk Palabuhanratu didominasi oleh suhu dingin dengan kisaran antara 24oC-27oC. Sedangkan pada penelitian sebelumnya (Ismajaya, 2006), SPL perairan Teluk Palabuhanratu pada bulan September 2005 termasuk hangat dengan kisaran nilai 27.10-29.00oC. Hal ini terjadi karena adanya dinamika perubahan lingkungan walaupun pada daerah yang sama. Dari citra satelit juga terlihat bahwa SPL hangat terkonsentrasi di daerah pantai dan semakin menurun ke arah perairan lepas pantai. Hal ini disebabkan karena daerah pantai di perairan Teluk Palabuhanratu banyak mendapat masukan air tawar yang membawa SPL hangat dari sungai-sungai di sekitarnya.
            Pada tanggal 4 September 2007 dan tanggal 9 Oktober 2007, perairan Teluk Palabuhanratu ditutupi awan yang tebal (Lampiran 9). Hal ini menyebabkan intensitas radiasi matahari sangat sedikit sehingga suhu permukaan laut sangat dingin. Awan yang menutupi perairan menyebabkan hanya sebagian kecil perairan yang dapat dilihat kisaran suhu permukaan lautnya. Awan menyebabkan terhalangnya pancaran tenaga elektromagnetik dari permukaan air, sehingga tidak semua wilayah terekam oleh sensor satelit. Sebagian tenaga elektromagnetik tersebut ada yang diserap ataupun dipantulkan yang menyebabkan tenaga elektromagnetik yang terekam menjadi rendah, sehingga suhu permukaan laut yang dihasilkan pun menjadi rendah. Lebih rendahnya SPL dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor oseanografi lainnya seperti arus. Namun demikian, perlu pangamatan yang lebih detail untuk melihat sejauh mana pengaruh arus terhadap SPL di perairan Teluk Palabuhanratu.
            Penentuan kisaran SPL pada setiap operasi penangkapan ikan dengan menggunakan hasil citra satelit masih memiliki kelemahan. Luasan sapuan sensor MODIS yang besar mengakibatkan kisaran SPL yang didapat masih dalam daerah yang luas. Disamping itu, satelit Aqua MODIS mengelilingi bumi pada sore hari sehingga data SPL pada saat operasi penangkapan ikan masih kurang akurat.

      Pengaruh SPL Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Cakalang
            Kisaran suhu permukaan laut pada saat penelitian berkisar antara 20oC-31oC. Kondisi ini membuktikan bahwa ikan cakalang masih dapat mentolerir suhu permukaan laut dingin 20oC dan suhu panas sampai 31oC. Namun demikian hasil tangkapan ikan cakalang terbanyak ditemukan  pada kisaran suhu 25oC-29oC (Gambar 10). Hal ini menunjukkan bahwa suhu yang cocok untuk penangkapan ikan cakalang di perairan Teluk Palabuhanratu adalah 25oC-29oC. Hasil tangkapan tidak ditemukan pada SPL diatas 29oC kemungkinan disebabkan karena ikan cakalang akan berenang lebih dalam sehingga payang tidak dapat menjangkaunya. Berdasarkan informasi nelayan payang di perairan Teluk Palabuhanratu, alat tangkap payang dioperasikan pada kedalaman kurang lebih 10 meter.  
            Berdasarkan  uji regresi didapatkan bahwa suhu permukaan laut tidak berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan ikan cakalang di perairan Teluk Palabuhanratu. Hal ini disebabkan karena kisaran SPL saat penelitian (20oC-31oC) masih berada pada suhu penangkapan cakalang sebagaimana disebutkan oleh Gunarso (1985), bahwa suhu optimum untuk penangkapan cakalang di Indonesia berkisar antara 28oC-29oC. Dengan demikian, ikan cakalang dapat dengan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu yang terjadi.
            Suhu permukaan laut optimum untuk kegiatan penangkapan cakalang bisa saja bervariasi berdasarkan perubahan waktu (temporal) dan tempat (spasial). Penyebaran ikan cakalang di suatu wilayah perairan tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor oseanografi tertentu. Kemungkinan penyebaran ikan cakalang di suatu tempat secara dominan dipengaruhi oleh SPL tetapi di daerah lain penyebarannya dipengaruhi oleh arus. Pada bulan Maret sampai Juni 2005 di Perairan Laut Maluku diketahui bahwa SPL dengan hasil tangkapan terbanyak berkisar antara 26oC-32oC (Arifin, 2006).

Tabel   Kisaran SPL optimum penangkapan ikan cakalang di sebagian wilayah    Indonesia
No
Author
Perairan
Waktu
SPL optimum
(oC)
1
Nora Anggraini
P.Mentawai
Musim Barat 2003
23-24



Musim Peralihan (Barat-Timur) 2003
24-25
Musim Timur 2003
29-30
Musim Peralihan (Timur-Barat) 2003
26-27
2
Rudy Permadi
P.Laut Banda
Agustus-Oktober 2002
26-28
3
Ibrahim Arifin
P.Laut Maluku
Maret-Juni 2005
26-32

            Menurut penelitian sebelumnya (Anggraini, 2003), SPL di perairan Mentawai berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan cakalang. Hal ini dapat terjadi karena kondisi faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi penyebaran cakalang kemungkinan berbeda secara spasial. Disamping itu, pengaruh SPL terhadap penyebaran cakalang untuk perairan tropis adalah kecil karena suhu relatif sama (konstan) sepanjang tahun (Hela and Laevastu, 1981). Dalam hasil perhitungan statistik dapat dilihat bahwa hanya 0.71% dari SPL yang dapat memprediksi hasil tangkapan ikan cakalang di perairan Teluk Palabuhanratu. Untuk mendapatkan hasil yang lebih lengkap, diperlukan perhitungan yang melibatkan karakteristik perairan lainnya, seperti arus, salinitas, klorofil a, dan lain-lain. Disamping itu, pengaruh faktor-faktor teknis produksi seperti keterampilan nelayan, alat tangkap, dan sebagainya diperlukan dalam penelitian-penelitian lanjutan.
            Berdasarkan uji statistik sebagaimana disajikan pada Gambar 12, SPL tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ukuran panjang ikan cakalang. Namun demikian berdasarkan gambar 13, terlihat suatu pola yang menunjukkan bahwa ikan cakalang yang ukuran kecil cenderung tertangkap pada SPL yang lebih hangat sedangkan ikan cakalang yang berukuran besar tertangkap pada SPL hangat dan dingin. Hal ini disebabkan karena metabolisme tubuh ikan cakalang yang berukuran kecil hanya mampu menyesuaikan dengan SPL yang lebih hangat. Ikan cakalang yang berukuran besar mampu berada pada suhu yang dingin maupun suhu yang hangat karena memiliki sistem metabolisme tubuh yang sudah baik (Arifin, 2006).      
            Ikan cakalang yang berukuran kecil lebih banyak tertangkap karena berada di lapisan permukaan  sehingga dapat tertangkap dengan payang. Ikan cakalang yang berukuran besar biasanya berada pada lapisan lebih dalam sehingga tidak terjangkau semua oleh alat tangkap payang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Waldrom diacu dalam Irawan (1995), bahwa ikan yang berukuran lebih besar berada pada lapisan yang lebih dalam dengan schooling yang kecil, sedangkan ikan yang berukuran kecil berada pada lapisan permukaan dengan kepadatan yang besar.

      Penyebaran Daerah Penangkapan Ikan Cakalang
            Penentuan Daerah Penangkapan Ikan (DPI) potensial didasarkan pada tiga indikator, yaitu jumlah tangkapan ikan cakalang, ukuran panjang dan sebaran SPL pada daerah penangkapan. DPI potensial untuk penangkapan ikan cakalang secara rutin selama bulan Agustus-Oktober 2007 terdapat di Teluk Ciletuh dan Ujung Karangbentang. Selanjutnya DPI yang kurang potensial selama bulan Agustus-Oktober 2007 terdapat di Teluk Bedog. Kondisi DPI yang masih potensial untuk penangkapan cakalang terdapat di Cimaja, Teluk Cikepuh, Ujung Genteng dan Gedogan. Hal ini didasari oleh kejadian frekuensi timbulnya kategori DPI potensial lebih sering dibandingkan dengan kategori DPI sedang dan kurang. Sedangkan DPI kategori sedang terdapat di Karang Payung, Teluk Amunan, Ujung Penarikan, Cisolok, Teluk Amurah, Guhagede, Ujung Sodongparat, Citepus, Panggeleseram, GOA dan Cisaar. Hal ini didasari oleh kejadian, yang mana frekuensi timbulnya kategori DPI potensial labih sedikit selama periode Agustus sampai Oktober 2007.

Tabel   Evaluasi DPI berdasarkan jumlah ikan, ukuran dan sebaran SPL
No
DPI
Kategori DPI bulan
Kategori DPI Gabungan
Agustus
September
Oktober
1
Karang Payung
Potensial
Sedang
-
Sedang
2
Cimaja
Potensial
Potensial
-
Masih Potensial
3
Tel.Ciletuh
Potensial
Potensial
Potensial
Potensial
4
Ujg.Karangbentang
Potensial
Potensial
Potensial
Potensial
5
Tel.Cikepuh
Kurang
Potensial
Potensial
Masih Potensial
6
Ujung Genteng
Potensial
Potensial
-
Masih Potensial
7
Ug.Penarikan
Sedang
Potensial
-
Sedang
8
Cisolok
Sedang
Potensial
-
Sedang
9
Gedogan
Kurang
Potensial
Potensial
Masih Potensial
10
Tl.Amuran
-
Potensial
-
Sedang
11
Guhagede
Sedang
Potensial
-
Sedang
12
Ug.Sodong Parat
Potensial
Sedang
-
Sedang
13
Citepus
-
Potensial
-
Sedang
14
Tl.Bedog
Sedang
Kurang
-
Kurang
15
Panggeleseram
-
Potensial
-
Sedang
16
Cisaar
Sedang
Potensial
Sedang
Sedang
17
GOA
-
-
Sedang
Sedang

            Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya (Ismajaya, 2006), diperoleh empat daerah potensial penangkapan ikan tongkol pada periode Agustus sampai Oktober 2005 yaitu : Citepus, Gedogan, Sodongparat dan Teluk Ciletuh. Hal ini mengindikasikan bahwa Gedogan dan Teluk Ciletuh merupakan daerah potensial untuk ikan cakalang dan ikan tongkol. Hal ini dapat terjadi karena tingkah laku ikan tongkol hampir mirip dengan ikan cakalang (Ismajaya, 2006).
            Posisi penangkapan yang potensial terbanyak didapat pada bulan September yaitu di perairan Cimaja, Ujung Karangbentang, Teluk Ciletuh, Teluk Amuran, Ujung Penarikan, Cisolok, Teluk Cikepuh, Guhagede, Gedogan, Citepus, Panggeleseram , Ujung Genteng dan Cisaar. Pada bulan Agustus, DPI potensial cakalang terdapat di Karang Payung, Ujung Karangbentang, Ujung Genteng, Ujung Sodongparat, Teluk Ciletuh dan Cimaja. Sedangkan bulan Oktober DPI potensial untuk cakalang terdapat di Ujung Karangbentang, Teluk Cikepuh, Gedogan dan Teluk Ciletuh. Pada bulan Agustus 2007 terdapat DPI cakalang yang kurang potensial yaitu di Teluk Cikepuh dan Gedogan.
            Frekuensi timbulnya DPI potensial pada bulan September lebih sering jika dibandingkan dengan bulan Agustus dan September 2007. DPI potensial pada bulan September 2007 sebanyak 13 DPI. Hal ini dapat terjadi karena bulan September merupakan musim puncak ikan cakalang di perairan Teluk Palabuhanratu sehingga banyak nelayan sampel yang melakukan penangkapan ikan. Pada bulan Agustus 2007 terdapat 6 DPI potensial. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh angin kencang dari arah tenggara sehingga ikan cakalang di sekitar perairan Teluk Palabuhanratu bermigrasi ke tempat lain yang lebih tenang. Sedangkan, pada bulan Oktober 2007 terdapat 4 DPI potensial. Hal ini terjadi karena pengaruh musim peralihan sehingga ikan cakalang yang tertangkap merupakan ikan yang berukuran kecil. DPI potensial terkonsentrasi di perairan Ujung Karangbentang pada bulan Agustus 2007. Pada bulan September 2007, DPI potensial terkonsentrasi di Teluk Cikepuh. Sedangkan DPI potensial pada bulan Oktober 2007 terkonsentrasi di Gedogan. Perubahan DPI potensial dari bulan Agustus 2007 sampai bulan Oktober 2007 disebabkan oleh perubahan kondisi oseanografi lingkungan perairan Teluk Palabuhanratu sehingga mempengaruhi tingkah laku ikan cakalang. 

 =========================================================================


KESIMPULAN DAN SARAN


 Kesimpulan
            Sebaran SPL di perairan Teluk Palabuhanratu pada bulan Agustus sampai Oktober 2007 berkisar antara 20oC-31oC. Pada bulan Agustus, SPL berkisar 22oC – 29oC dengan SPL dominan antara 26oC-29oC. Kisaran SPL pada bulan September yaitu antara 21oC – 27oC dengan SPL dominan antara 24oC – 27oC. Kisaran SPL pada bulan Oktober adalah 20oC-29oC dengan suhu dominan pada kisaran 24oC-28oC.
            Komposisi jumlah hasil tangkapan cakalang pada bulan Agustus sampai Oktober 2007 cenderung berfluktuasi. Hasil tangkapan pada bulan Agustus, September dan Oktober 2007 masing-masing sebesar 8,098 kg, 37,855 kg dan 15,910 kg. Ukuran cakalang yang tertangkap didominasi ukuran kecil yaitu 71% sedangkan ukuran yang besar hanya 29% dari total hasil tangkapan 61,863 kg.
            Suhu permukaan laut tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah dan ukuran hasil tangkapan ikan cakalang di perairan Teluk Palabuhanratu. Namun, terdapat pola atau trend yang menunjukkan bahwa ikan ukuran kecil lebih dominan tertangkap pada suhu hangat sedangkan ikan cakalang ukuran besar dapat tertangkap pada suhu hangat dan dingin. Hasil tangkapan ikan cakalang terbanyak terdapat pada kisaran SPL antara 25oC-29oC.
           
            Saran
1)      Perlu dilakukan penelitian yang serupa tetapi menggunakan GPS sehingga posisi kapal pada waktu melakukan operasi penangkapan lebih akurat.
2)      Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan hasil tangkapan terhadap faktor oseanografi lainnya seperti arus dan klorofil a.
3)      Perlu dilakukan penelitian dengan musim yang berbeda supaya dapat terlihat penyebaran daerah penangkapan ikan selama satu tahun.
=========================================================================
Lampiran:
SPL Pada Bulan Agustus

SPL Bulan September

SPL Bulan Oktober

0 komentar:

Poskan Komentar